Tata cara menulis Abstrak dengan baik dan benar



“Abstrak” (abstract) merupakan sebuah elemen yang harus ada dalam semua jenis tulisan akademis, mis. artikel ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi. Sekadar informasi, jika Anda sedang mempersiapkan artikel ilmiah untuk jurnal, tanpa abstrak, artikel Anda kemungkinan besar akan ditolak. Atau jika beruntung, Anda akan dikontak oleh pengelola jurnal untuk harus melengkapinya dengan abstrak. Ini disebabkan salah satu item penilaian akreditasi jurnal adalah bahwa setiap tulisan yang terdapat di dalam jurnal tersebut mesti mengandung abstrak.
Sebagai dosen yang setiap tahun membimbing para mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah tahap akhir, saya selalu berhadapan dengan pertanyaan yang sama:bagaimana menulis abstrak?; unsur-unsur apakah yang harus ada di dalam abstrak? Pun, sebagai editor in chief dari dua jurnal ilmiah, saya selalu mendapati mayoritas kontributor yang menyertakan abstrak untuk artikelnya tidak menulisnya sesuai dengan kandungan elemen-elemen yang harus ada di dalam sebuah abstrak.
Dalam pengamatan saya, kenyataan di atas sebenarnya lebih disebabkan oleh kurangnya pembekalan mengenai teknis menulis karya ilmiah di berbagai academia. Bukan hanya itu, secara psikologis, kita cenderung langsung ingin menulis apa yang kita pikir perlu kita tulis tanpa merasa perlu memakai banyak waktu mengetahuibagaimana menulis apa yang hendak kita tulis. Maka, tulisan ini saya kira penting sebagai suplemen informatif bagi para akademisi yang sedang berjibaku dengan karya tulis ilmiah.
Elemen-elemen
Abstrak adalah ringkasan dari seluruh isi sebuah tulisah ilmiah. Selain harus mencantumkan informasi bibliografisnya (nama penulis, judul, tahun, dan jumlah halaman), isi abstrak seharusnya mengandung elemen-elemen kunci yang akan dijelaskan secara ringkas di bawah ini:
  1. Latar belakang. Di bagian ini, Anda perlu memberikan rangkuman informasi mengenai latar belakang atau lebih spesifik pokok masalah yang Anda geluti di dalam karya ilmiah Anda.

  2. Tujuan. Di bagian ini Anda perlu mengemukakan tujuan penulisan karya ilmiah Anda.

  3. Implikasi. Di bagian ini Anda mengemukakan implikasi praktis dari hasil riset Anda (jika ada).

  4. Metode. Di bagian ini Anda perlu mengemukakan metode riset yang Anda gunakan.

  5. Hasil. Di bagian ini Anda mengemukakan temuan-temuan yang Anda hasilkan dalam riset Anda.

  6. Kesimpulan. Kemukakan kesimpulan akhir dari hasil riset Anda di sini.
Mengingat kandungan elemen-elemen kunci di atas, sebuah abstrak baru dapat ditulis setelah seluruh proses penulisan karya ilmiah sudah dilakukan.
Mengenai panjangnya, bergantung jenis karya ilmiah yang Anda tulis, termasuk juga bergantung teknis penulisan yang diacu di sebuah perguruan tinggi atau di sebuah jurnal. Untuk artikel jurnal, biasanya sebuah abstrak tidak boleh lebih dari 150 kata. Untuk skripsi, tesis, dan disertasi, kisaran jumlah katanya antara 300-500 kata.
Mengenai bentuk penyajiannya, Anda dapat memilih bentuk terstruktur dengan menyebut elemen-elemen di atas. Biasanya ini digunakan dalam penulisan artikel-artikel ilmiah (lih. contoh capture di bagian akhir artikel ini). Dalam penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, umumnya abstrak ditulis dalam bentuk paragraf-paragraf naratif. Entah dalam bentuk terstruktur maupun dalam bentuk naratif, semua elemen di atas harus terkandung di dalam sebuah abstrak.
Kegunaan
Mengenai artikel jurnal, sudah di singgung di atas bahwa abstrak diharuskan ada karena itu merupakan salah satu poin penilaian akreditasi jurnal. Selain itu, abstrak juga berguna untuk keperluan peer review (penelaahan sejawat atau penilaian sejawat). Abstrak menolong mitra bestari (lih. paragraf di bawah) untuk mendapatkan gambaran umum mengenai tulisan Anda sebelum ia melakukan pembacaan yang lebih detail.
Sekadar informasi tambahan, peer review adalah telaah dari pakar dalam bidang yang sama dengan isu yang dibahas dalam sebuah tulisan ilmiah. Pakar yang melakukan peer review disebut mitra bestari. Biasanya ini dilakukan di jurnal-jurnal ilmiah termasuk juga di beberapa perguruan tinggi yang tidak mengunakan sistem “meja hijau” (oral defense) untuk karya ilmia tahap akhir semisal tesis atau disertasi.
Untuk karya-karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi yang diuji pada “meja hijau” (oral defense), abstraksi dimaksudkan, mirip seperti untuk keperluan peer review di atas, menolong para penguji untuk mendapatkan gambara awal mengenai karya ilmiah Anda.



Akhirnya, karena para Kompasianers ada yang masih berstatus mahasiswa, termasuk juga ada para dosen di sini yang tentu terlibat dalam pembimbingan, saya percaya ini akan bermanfaat sebagai masukan dan atau pengingat. Bahkan manfaatnya bisa lebih luas, harapan saya, mengingat Kompasiana dapat diakses bukan hanya oleh para Kompasianers.

Writing and learning and thinking are the same process” (William Zinsser).
Sekian, Semoga bermanfaat !!!

Related Posts:

Post a Comment