Kekhalifahan Dinasti Umayyah

A. Sejarah Dinasti Umayyah

Kekuatan Militer dan Strategi Peperangan Bani Ummayyah
Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin ‘Abdul Syams bin Abdul Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah. Keluarga Bani Umayyah baru masuk Agama Islam pada peristiwa Fathul Makkah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, Pertikaian politik yang terjadi dikalangan umat Islam semakin memanas, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah Khalifah terbunuh, umat Islam di wilayah Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai Khalifah yang sah. Sementara itu, diwaktu yang sama Mu’awiyah bin Abi Shofyan sebagai Gubernur Propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan dirinya sebagai Khalifah dengan Damaskus sebagai ibukotanya. Namun, karena kepemimpinan yang dibangun Hasan bin 'Ali ternyata lemah dan tidak kuat menghadapi berbagai propaganda yang dilancarkan oleh kubu Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Maka, akhirnya Hasan bin 'Ali pun menanggalkan kekuasaannya dan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan dengan syarat seusai masa kepemimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan berakhir, maka tampuk kekuasaan Islam harus dikembalikan kepada segenap kaum muslimin untuk selanjutnya dapat dimusyawarahkan berkenaan dengan penunjukan Pemimpin Umat Islam selanjutnya. Namun ternyata, seusai masa kepemimpinan Mu'awiyah berakhir, dia justru mengangkat putranya, Yazid bin Mu'awiyah menjadi putra mahkota dan sekaligus mengganti sistem pemerintahannya menjadi kerajaan monarkhi absolut. Sejak saat itu, yakni tahun 660 M/40 H mulai berdirilah Daulah Dinasti Umayyah yang beribukota di Damaskus dengan Mu’awiyah sebagai pendiri Dinasti Bani Umayyah dan Khalifah pertamanya. Karier politik Mu’awiyah mulai meningkat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Setelah Yazid bin Abi Sufyan meninggal di medan pertempuran Yarmuk, Mu’awiyah diangkat menjadi Gubernur di sebuah kota di Syria. Dalam masa kepemimpinannya menjadi gubernur Syria, Mu’awiyah giat melancarkan perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai ke perbatasan wilayah Byzantium. Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah terlibat konflik dengan khalifah 'Ali untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Gubernur Syria. Sejak saat itu, Mu'awiyah mulai berambisi untuk menjadi Khalifah dengan mendirikan Dinasti Umayyah. Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu’awiyah menjadi penguasa seluruh imperium Islam. Dan dalam masa kedinastiannya berdiri selama 90 tahun, perluasan wilayah kekuasaan Islam menjadi agenda utama yang paling dikedepankan. Terbukti, puncak kesuksesannya telah membawa islam menjadi Negara Daulah yang paling ditakuti dan berwilayah sangat luas. Sedang pada masa awal pendiriannya saja, Daulah ini dibawah komando Mu'awiyah dapat menaklukan Afrika Utara dan itu sekaligus menjadi peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya.

B. Masa Keemasan

*Merah : Wilayah terluas yang pernah dikuasai Bani Umayyah
Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke Sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi Sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan.

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul-Malik. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benuaEropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

Di zaman Umar bin Abdul-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Pirenia. Serangan ini dipimpin olehAburrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeaux, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini.
Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah.

Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arabsebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, diantaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.

Meskipun keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah padahal tidak ada satu dalil pun dari al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mendukung pendapatnya.
Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah, Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia, Namun terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim keDamaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah. Kelompok Syi'ah sendiri, yang tertindas setelah kesyahidan pemimpin mereka Husain bin Ali, terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan di antaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia,Armenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi'ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepungMadinah dan Mekkah secara biadab seperti yang diriwayatkan dalam sejarah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.
Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu, gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi'ah juga dapat diredakan. Keberhasilan ini membuat orientasi pemerintahan Bani Umayyah mulai dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur (meliputi kota-kota di sekitar Asia Tengah) dan wilayah Afrika bagian utara, bahkan membuka jalan untuk menaklukkan Spanyol (Al-Andalus). Selanjutnya hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz (717-720 M), di mana sewaktu diangkat sebagai khalifah, menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang berada dalam wilayah Islam agar menjadi lebih baik daripada menambah perluasannya, dimana pembangunan dalam negeri menjadi prioritas utamanya, meringankan zakat, kedudukan mawali disejajarkan dengan Arab. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun berhasil menyadarkan golongan Syi'ah, serta memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.

C. Bani Ummayyah di Andalusia


Al-Andalus atau (kawasan Spanyol dan Portugis sekarang) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M), dimana tentara Islam yang sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah. Semenanjung Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visighots pada tahun 507 M, didiami oleh bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia. Dengan mengubah ejaanya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa belakangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia.
Spanyol/Andalusia di kuasai oleh umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M) salah seorang khalifah Daulah Umayah yang berpusat di Damaskus.Bani Umayyah merebut Spanyol dari bangsa Gothia pada masa khalifah al Walid ibn ‘Abd al Malik (86-96 H/705-715 M).
Penaklukan Spanyol diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawah pimpinan Tarif ibn Malik pada tahun 91 H/710 M. Pasukan Tarifa mendarat di sebuah tempat yang kemudian diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil, dan Tarifa kembali ke Afrika Utara dengan membawa banyak Ghanimah. Musa ibn Nushair, Gubernur Jenderal al Maghrib di Afrika Utara pada masa itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Ekspedisi II ini mendarat di bukit karang Giblartar (Jabal al Thariq) pada tahun 92 H/711 M. Sehubungan Tentara Gothia yang akan dihadapi berjumlah 100.000 orang, maka Musa Ibn Nushair menambah pasukan Thariq menjadi 12.000 orang. Pertempuran pecah di dekat muara sungai Salado (Lagund Janda) pada bulan Ramadhan 92/19 Juli 711 M. Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, dengan mengalahkan Raja Roderick di Bakkah dan menaklukan kota-kota penting seperti Cordova, Granada, Toledo dan hingga akhirnya menguasai seluruh kota penting di Spanyol.

Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul-Aziz tahun 99 H/717 M, dimana sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitiers dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours, di kota ini ia ditahan oleh Charles Martel, yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Tours, al-Ghafiqi terbunuh sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara muslim mundur kembali ke Spanyol.

Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Goth bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, Raja Goth terakhir yang dikalahkan pasukan Muslimin. Awal kehancuran kerajaan Visigoth adalah ketika Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderic. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa.

Hal lainnya yang menguntungkan tentara Islam adalah bahwa tentara Roderic yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang, selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.

Sewaktu penaklukan itu para pemimpin penaklukan tersebut terdiri dari tokoh-tokoh yang kuat, yang mempunyai tentara yang kompak, dan penuh percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

D. Para Khalifah Bani Ummayyah

Umar bin Abdul Aziz, Khalifah bijak Bani Umayyah
Kekuasaan Bani Umayyah berumur ± 90 tahun. Khalifah-khalifah besar Dinasti umayyah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (660-680 M), Abd Malik ibn Marwan (685-705 M), al Walid ibn Abd Malik (705-715 M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720 M), dan Hisyam ibn Abd al-Malik (724-743M).
Secara berturut-turut terdapat 14 orang khalifah yang memerintah dalam Dinasti Umayyah ini sejak berdirinya tahun 661 M/41 H sampai runtuhnya pada tahun 750 M/132 H, yaitu :

1. Muawiyah bin Abi Sufyan (660 M/40 H – 680 M/60 H)
2. Yazid bin Muawiyah (680 M/60 H – 683 M/64 H)
3. Muawiyah II (683 M/64 H)
4. Marwan bin al-Hakam (684 M/64 H – 685 M/65 H)
5. Abdul Malik bin Marwan (685 M/65 H – 705 M/86 H)
6. Al-Walid I (750 M/86 H – 715 M/96 H)
7. Sulaiman (715 M/96 H – 717 M/99 H)
8. Umar bin Abdul Aziz (717 M/99 H – 720 M/101 H)
9. Yazid II (720 M/101 H – 724 M/105 H)
10. Hisyam (724 M/105 H – 743 M/125 H)
11. Al-Walid (743 M/125 H – 744 M/126 H)
12. Yazid III (744 M/126 H)
13. Ibrahim (744 M/126 H)
14. Marwan II bin Muhammad (744 M/ 126 H – 750 M/132 H)

E. Kemajuan yang dicapai dan berbagai Peninggalan Bani Ummayyah

Qubatus Sakrah di kompleks Masjidil Aqsa merupakan bangunan Bani Umayyah
Muawiyah dan keturunannya bukan saja dikenal sebagai pahlawan dalam ekspansi Islam, tapi juga dikenal sebagai tokoh pembangunan dan pembaharuan, baik dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Kemajuan Bani Umayyah terjadi pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan sampai pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik (660 M/40 H – 743 M/125 H), sedangkan masa pemerintahan khalifah-khalifah setelah Hisyam mengarah kepada kehancuran.
Secara tidak langsung, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Dinasti ini berdampak pada kemajuan berbagai bidang, kebijakan-kebijakan itu antara lain :

1. Mengangkat orang-orang Arab sebagai Pemimpin dalam mengembangkan kepemimpinan umat Islam di seluruh kawasan yang mereka taklukkan
2. Bahasa Arab sebagai bahasa utama umat, baik bagi pengembangan administrasi pemerintahaN maupun keilmuan
3. Kepentingan orang-orang luar Arab (Ajam) dalam rangka memahami sumber-sumber Islam (Alquran dan As-Sunnah) dituntut memahami struktur dan budaya Arab, sehingga telah melahirkan berbagai ilmu bahasa Arab; nahwu, sharaf, balaghah, bayan, badi’, isti’arah dan sebagainya.
4. Pengembangan ilmu-ilmu agama sudah mulai dikembangkan, karena sudah mulai terasa betapa penduduk-penduduk di luar Jazirah Arab sangat memerlukan berbagai penjelasan secara sistematis dan kronologis tentang Islam. Ilmu-ilmu yang berkembang saat itu di antaranya tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, ilmu kalam dan sirah/tarikh.

Secara rinci, kemajuan-kemajuan itu terdapat pada bidang-bidang sebagai berikut :

Di bidang politik dan kenegaraan, Muawiyah digambarkan oleh penulis-penulis Arab sebagai orang yang mempunyai sifat hilm yang sempurna, yaitu berupa kecerdikan dan kelicinan, maksudnya kecakapan mengalahkan lawan tanpa kekerasan. Menurut cerita, Muawiyah pernah berkata : “……Saya tidak akan menggunakan pedang, bila cemeti sudah mencukupi, dan saya tidak akan menggunakan cemeti bila lidah sudah mencukupi….”. Di samping itu, tata usaha kenegaraan telah diatur dengan adanya sistem gaji bagi kepolisian/ketentaraan.

Di bidang ekonomi, antara lain adalah usaha-usaha mandiri, tidak menggantungkan diri pada pendatang yang menunaikan ibadah haji, yaitu anjuran menanam buah-buahan di daerah Hijaz, Mekkah dan Madinah. Selain itu juga, pada zaman Abdul Malik, mata uang asing yang berlaku (uang Romawi, Persia dan Ethiopia) diganti dengan uang sendiri dan pada tahun 659 M dilaksanakan Arabisasi, antara lain istilah-istilah administrasi keuangan diganti dengan istilah Arab.

Adapun organisasi ketatanegaraan pada zaman Bani Umayyah adalah sebagai berikut :

1. An Nidhamus Siyasi, yaitu organisasi politik yang meliputi: kekhalifahan berubah dari sistem syara menjadi sistem monarki; al-Kitabah atau Sekretariat Negara yang terdiri dari Katibul Rasail, Katibul Kharraj, Katibul Jundi dan Katibus Surthah; dan al-Hijabah yaitu semacam pengawal Khalifah.

2. An Nidhamul Idari, yaitu organisasi tata usaha negara, terdiri dari : ad-Dawawin, yaitu kantor pusat yang mengurus tata usaha negara yang terdiri dari Diwanul Kharraj, Diwanul Rasail, Diwanul Mustagilat al-Mutanawwiyah dan Diwanul Katibi; Imarah alal Buldan, yaitu daerah-daerah propinsi. Setiap propinsi diangkat seorang Amiril Umara; Baried, yaitu organisasi pos; dan Syurthah, yaitu organisasi kepolisian.

3. An Nidhamul Mal, yaitu organisasi keuangan. Sumber keuangan terdiri dari: ad Daraib (pajak dari daerah takluk) dan suumbangan lainnya, sedangkan pengeluaran antara lain: gaji pegawai, tentara/polisi, perlengkapan perang, hadiah dan lain-lain.

4. An Nidhamul Harb, yaitu organisasi pertahanan dengan tugas mempertahankan wilayah yang ada ekspansi serta dakwah Islamiyyah.

5. An Nidhamul Qadha’i, yaitu organisasi kehakiman. Pada masa Umayyah kekuasaan kehakiman dipisahkan dengan kekuasaan politik dan keputusan-keputusan pengadilan dibukukan.

Di bidang ilmu pengetahuan dan kemasyarakatan, setelah bangsa-bangsa Persia, syria dan negeri-negeri lainnya masuk dalam kekuasaan Islam dan terjadi perkawinan antarsuku, dan lain sebagainya mendorong majunya ilmu pengetahuan. Pada masa permulaan Bani Umayyah, maka ilmu yang berkembang hanya 2 aspek, yaitu ilmu yang disebut al-Fiqhu fiddin dan al-Fiqhu fil Ilmi yaitu ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Perkembangan kedua ilmu di atas lebih tampak setelah Bani Umayyah dapat menguasai Spanyol, Afrika Utara, Palestina, Semenanjung Arabia, daerah-daerah Rusia dan kepulauan-kepulauan yang terdapat di laut Tengah, Sardinia, Crette, Rhodes, Syprus dan sebagian Sicillia.

Bidang pendidikan seperti pendidikan sejarah, tata bahasa, geografi, dan berbagai sains, sekalipun pada masa awal dinasti ini hanya terdapat satu lembaga pendidikan di Badira (perkampungan di dekat Madinah).

Di bidang arsitektur, penguasa dan dinasti Umayyah pada umumnya mahir dalam seni arsitektur. Mereka mencurahkan perhatian demi kemajuan bidang ini. Seperti berdirinya sejumlah bangunan megah, Mesjid Baitul Maqdis di Yerussalem yang terkenal dengan kubah batunya didirikan pada masa Abdul Malik tahun 691 M, merupakan peninggalan arsitektur terindah. Ia adalah mesjid pertama yang ditutup dengan kubah di atasnya. Ia juga mendirikan mesjid lainnya yang bernama Mesjid al-Aqsha yang tidak kalah tinggi seni arsitekturnya. Sebuah mesjid yang indah terdapat di Damaskus dibangun oleh Walid ibn Abdul Aziz sebagai mesjid istana. Ruangan mesjid ini dihiasi oleh berbagai ornamen yang terbuat dari pualam dan mosaik. Walid juga merehab Mesjid Madinah. Di antara beberapa monumen peninggalan Umayyah yang terkenal adalah istana Qusayr Amrah, istana ini terbuat dari batu kapur yang berwarna bening kemerah-merahan.

F. Penurunan sekaligus Keruntuhan


Sepeninggal Umar bin Abdul-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul-Malik (720- 724 M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya. Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus.

Faktor-Faktor Penyebab Mundurnya Dinasti Umayyah

Kebesaran yang dibangun oleh Daulah Bani Umayyah ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa hampir satu abad ini, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa factor yang kemudian mengantarkan pada titik kehancuran. Diantara fakto-faktor tersebut adalah:

1. Terjadinya pertentangan keras antara kelompok suku Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan (Suriah) Himyariyah, pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai puncaknya pada masa Dinasti Umayyah karena para khalifah cenderung berpihak pada satu etnis kelompok.

2. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah. Mereka bersama-sama orang Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan diatas rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.

3. Konfllik-konflik politik yang melatar belakangi terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum syi`ah dan khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin umat.

Dari penjelasan di atas dapat saya simpulkan bahwa faktor-faktor keruntuhan dinasti Bani Umayyah secara umum ada dua yaitu:

a. Faktor Internal
Beberapa alasan mendasar yang sangat berpengaruh terhadap keruntuhan Dinasti Umayah adalah karena kekuasaan wilayah yang sangat luas tidak dibaringi dengan komunikasi yang baik, sehingga menyebabkan suatu kejadian yang mengancam keamanan tidak segera diketahui oleh pusat.

Selanjutnya mengenai lemahnya para khalifah yang memimpin. Diantara khalifah-khalifah yang ada, hanya beberapa saja khalifah yang cakap, kuat, dan pandai dalam mengendalikan stabilitas negara. Selain itu, di antara mereka pun hanya bisa mengurung diri di istana dengan hidup bersama gundik-gundik, minum-minuman keras, dan sebagainya. Situasi semacam ini pun mengakibatkan munculnya konflik antar golongan, para wazir dan panglima yang sudah berani korup dan mengendalikan negara.

b. Faktor Eksternal
Intervensi luar yang berpotensi meruntuhkan kekuasaaan Dinasti Umayah berawal pada saat Umar II berkuasa dengan kebijakan yang lunak, sehingga baik Khawarij maupun Syiah tak ada yang memusuhinya. Namun, segala kelonggaran kebijakan-kebijakan tersebut mendatangkan konsekuensi yang fatal terhadap keamanan pemerintahannya. Semasa pemerintahan Umar II ini, gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Bani Abbas mampu berjalan lancar dengan melakukan berbagai konsolidasi dengan Khawarij dan Syiah yang tidak pernah mengakui keberadaan Dinasti Umayah dari awal. Setelah Umar II wafat, barulah gerakan ini melancarkan permusuhan dengan Dinasti Umayah. Gerakan yang dilancarkan untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasyiah semakin kuat. Pada tahun 446 M mereka memproklamasikan berdirinya pemerintah Abbasyiah, namun Marwan menangkap pemimpinnya yang bernama Ibrahim lalu dibunuh. Setelah dibunuh, pemimpin gerakan diambil alih oleh seorang saudaranya bernama Abul Abbas as-Saffah yang berangkat bersama-sama dengan keluarganya menuju Kuffah. Kedudukan kerajaan Abbasyiah tidak akan tegak berdiri sebelum khalifah-khalifah Umayah tersebut dijatuhkan terlebih dahulu.

As-Saffah mengirim suatu angkatan tentara yang terdiri dari laskar pilihan untuk menentang Marwan, dan mengangkat pamannya Abdullah bin Ali untuk memimpin tentara tersebut. Antara pasukan Abdullah bin Ali dan Marwan pun bertempur dengan begitu sengitnya di lembah Sungai Dzab, yang sampai akhirnya pasukan Marwan pun kalah pada pertempuran itu. Sepeninggal Marwan, maka benteng terakhir Dinasti Umayah yang diburu Abbasyiah pun tertuju kepada Yazid bin Umar yang berkududukan di Wasit. Namun, pada saat itu Yazid mengambil sikap damai setelah mendengar berita kematian Marwan. Di tengah pengambilan sikap damai itu lantas Yazid ditawari jaminan keselamatan oleh Abu Ja’far al-Mansur yang akhirnya Yazid pun menerima baik tawaran tersebut dan disahkan oleh As-Saffah sebagai jaminannya. Namun, ketika Yazid dan pengikut-pengikutnya telah meletakkan senjata, Abu Muslim al-Khurasani menuliskan sesuatu kepada As-Saffah yang menyebabkan Khalifah Bani Abbasyiah itu membunuh Yazid beserta para pengikutnya. [End]

Sumber : Kitab "Sejarah Kebudayaan Islam" Kelas IX MTs/SMP Kementerian Agama Republik Indonesia dan dari berbagai sumber yang telah diolah.

Related Posts:

Post a Comment