Bencana Alam Terdahsyat Sepanjang Sejarah Manusia


1. Letusan Gunung Terdahsyat

Letusan Gunung Tambora dalam lukisan
       Letusan gunung berapi terdahsyat terjadi pada bulan April 1815. Tepatnya mulai tanggal 10 hingga 17 April 1815, ketika Gunung Tambora mencapai puncak aktivitas vulkaniknya. Gunung Tambora berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Letusan di tahun 1815 itu memiliki skala 7 VEI (Volcanic Explosivity Index) atau 4 kali lebih kuat daripada letusan Gunung Krakatau di tahun 1883. Muntahan magma Tambora mencapai 100 km kubik dan melepaskan 400 km kubik abu dengan ketinggian 44 km diatas permukaan tanah dan lontaran abu sejauh 2600 km. Daerah radius kurang dari 600 km dari kawah Tambora mengalami efek paling parah. Bahkan saat letusan terjadi, daerah dalam radius 600 km dalam keadaan gelap gulita sepanjang hari, hampir seminggu lamanya. Suara letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra pada tanggal 10-11 April (berjarak > 2.600 km). Abu vulkanik juga jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku serta debunya terbawa hingga ke Eropa dan Amerika. 
Kawah Tambora saat ini. Berdiameter 6,5 - 7 km dan kedalaman 1 - 1,2 km
       Letusan Gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000-12.000 orang diantaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Menurut kajian para ahli dengan menggunakan penanggalan radiokarbon, Gunung Tambora pernah mengalami letusan sebanyak 3 kali sebelum letusan 1815, tetapi besarnya letusan tidak dapat diketahui. Perkiraan letusan Tambora yang pertama terjadi pada tahun 39.910 SM, sedangkan yang kedua dan yang ketiga terjadi pada tahun 3.050 SM dan 740 SM.  
A Year without Summer
Letusan gunung ini juga menyebabkan perubahan iklim dunia, tahun 1816 sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas (A Year without Summer) karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa akibat abu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Di Eropa dan Amerika Utara, langit terlihat gelap sebab matahari tertutup debu vulkanik yang membuat daerah itu tetap dingin walau di musim panas. Jutaan orang kelaparan, mayat terkapar bergelimpangan, semua akibat tumbuhan layu dan mati tanpa adanya matahari sepanjang tahun. Salju tak kunjung cair, membuat tahun itu menjadi tahun amat mengerikkan bagi penduduk dunia. 
Perbandingan letusan Gunung Tambora dan Gunung Toba
Sebenarnya, Magnitudo letusan Tambora bukanlah yang terbesar dalam skala VEI, tercatat letusan gunung terdahsyat pernah terjadi dalam skala 8 VEI yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu oleh Gunung Toba (Sumatra Utara), namun data-data primer mengenai letusan itu sangat sedikit yang dapat diungkap hingga saat ini.
Letusan gunung memang tidak dapat dihindari, tetapi sebagai manusia, kita wajib berusaha menghadapi bencana yang dapat kapanpun menghampiri kita dengan berbagai upaya intimigasi yang dapat mengurangi korban dan kerugian yang kita alami. Sejatinya, alam terus berusaha bersahabat dan berdamai dengan manusia. Tetapi terkadang keangkuhan manusia telah membuat alam marah dan menimbulkan bencana. Penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan alam akibat aktivitas eksplorasi tak bertanggunggungjawab oleh tangan-tangan kerdil manusia itu sendiri.

2. Gempa bumi terdahsyat

Daerah Valdivia pasca gempa
Inilah gempa bumi paling dahsyat yang berhasil didokumentasikan. Gempa bumi berkekuatan 9.5 SR yang terjadi pada 22 Mei 1960 ini berpusat di dekat Valdivia, sebelah selatan Chili. Mungkin sebelumnya banyak terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang lebih besar, tapi gempa bumi valdivia ini merupakan gempa bumi terbesar semenjak manusia bisa mencatat kekuatan dan pusat terjadinya gempa bumi secara akurat sekitar awal tahun 1900-an. Gempa bumi ini terjadi di bawah Samudera Pasifik di lepas pantai Chili. Gempa ini juga menimbulkan gelombang setinggi 18 kaki yang menerjang Pulau Honshu, Jepang, sekitar 22 jam setelah gempa bumi terjadi. Selain di Jepang, efek dari gempa bumi ini juga dirasakan di Hawaii, pesisir barat Amerika, Philipina, dan Pulau Samoa. Sedangkan gempa bumi yang memakan korban jiwa paling besar yaitu gempa bumi tahun 1556 di Shaanxi, China. Gempa ini berkekuatan sekitar 8 SR, dan sekitar 830.000 orang kehilangan nyawa akibat gempa bumi ini.

3. Tsunami terdahsyat

Satu hari setelah hari raya natal, tepatnya pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi tektonik berkekuatan 9.3 SR terjadi di kedalaman 30 km diatas permukaan laut Samudera Hindia. Sesaat setelah gempa terjadi, sebuah gelombang tsunami yang dianggap paling dahsyat sepanjang sejarah, menghantam 11 negara di Asia dan menimbulkan korban jiwa sekitar 230.000 orang. Gempa bumi itu sendiri menempati rangking ketiga yang terbesar setelah Great Chilean Earthquake dan Good Friday Earthquake.

4. Tanah longsor terdahsyat


Tanah longsor terbesar sepanjang sejarah 
terjadi pada masa pra sejarah. Tanah longsor pra sejarah ini sendiri berhasil diidentifikasi pada tahun 1938 oleh Harrison and Falcon dan diterbitkan di Journal of Geology. Tanah longsor itu terjadi di barat daya Iran dan dikenal dengan nama Saidmarreh landslide. Tanah longsor tersebut diperkirakan memiliki volume sekitar 20 km3, dengan kedalaman sekitar 300 m, dan menempuh jarak sejauh 14 km dengan lebar 5 km. Itu berarti, sekitar 50 milyar ton tanah dan bebatuan bergerak dalam sekali.

5. Banjir terdahsyat


Pada bulan Juli sampai November di tahun 
1931 terjadi sebuah banjir dahsyat di Chinatengah. Sekitar 3.7 sampai 4 juta jiwa melayang ditelan banjir ini. Banjir ini diawalidengan cuaca yang tidak normal sejak akhir tahun 1930 dan pada bulan juli curah hujanmeningkat dan mencapai puncaknya pada bulan agustus 1931. Banjir tersebut lebihdikarenakan meluapnya sungai-sungai besar di China, yaitu Sungai Kuning, SungaiYangtze dan Sungai Huai. Beberapa daerah yang terkena dampaknya adalah Hubei, Hunan, Jiangxi, Hankou, Wuhan, Hanyang, Chongqing. Banjir China pada tahun 1931 ini juga menempati rangking 1 dalam daftar bencana yang paling mematikan dalam sejarah manusia..

6. Badai terdahsyat


Labor Day hurricane merupakan badai 
kategori 5 yang sangat jarang terjadi. Badaiini terjadi pada bulan September 1935 dan memakan korban jiwa sekitar 423 orang.Daerah yang terkena badai ini meliputi Bahamas, Florida Keys, Big Bend, Florida Panhandle, Georgia, South Carolina, North Carolina dan Virginia.

7. Tornado terdahsyat


Tornado paling dahsyat yang terekam 
sejarah yaitu tornado yang terjadi pada 18 Maret 1925. Tornado ini diberi nama “Tri- State Tornado” karena tornado ini menjelajahi sampai 3 negara bagian di Amerika, yaitu Missouri, Illinois dan Indiana. Tornado ini memegang rekor sebagai tornado yang memiliki jarak tempuh terjauh (352 km), durasi terlama (3,5 jam) dan pergerakan tercepat (117 km/jam). Tornado ini memakan korban sebanyak 695 jjiwa.
Sedangkan tornado yang paling banyak memakan korban jiwa terjadi di Dhaka, Bangladesh pada 26 April 1989. Tornado ini merenggut sebanyak 1.300 korban jiwa.[End]

Related Posts:

Kisah Perjuangan dibalik Runtuhnya Konstantinopel


Tentara Islam
Rasulullah S.A.W pernah bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”.[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Pada masa pemerintahan Sulthan Murad II beberapakali usaha penaklukkan Kota Konstantinopel dilakukan. Bahkan di masanya, pasukan Islam beberapakali mengepung kota ini. Tonggak sejarah mencatat, Sulthan Muhammad II putera Sulthan Murad II yang melanjutkan usaha penaklukkan Konstantinopel, berusaha untuk memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi kwantitas hingga mencapai 250.000 personil.
Sebelum serangan dilancarkan, Sultan Muhammad II telah mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang berbatasan langsung dengan konstantinopel diantaranya ialah perjanjian yang dibuat dengan kerajaan Galata yang bersebelahan dengan Byzantine. Ini merupakan strategi yang penting supaya seluruh tenaga dapat difokuskan kepada musuh yang satu tanpa ada ancaman lain yang tidak terduga.

Akhirnya pasukan yang dipimpin langsung sultan Muhammad II sampai didekat Konstantinopel pada hari Kamis tanggal 26 Rabiul Awwal 857 H.(6 April 1453 M). bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, dan tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha mereka merencanakan penyerangan ke Konstantinopel dari berbagai penjuru kota dengan berbekal 150.000 ribu pasukan , meriam dan 400 kapal perang. Sulthan Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam, menyerahkan penguasaan kota secara damai atau memilih perang. Paleologus bertahan untuk tetap mempertahankan kota. Ia dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng kokoh yang tingginya terpampang 10 meter menghujam keatas langit tersebut memang sulit ditembus, selain itu di sisi luar benteng dilindungi oleh parit-parit dalam. Dari sebelah barat pasukan altileri harus membobol benteng setebal dua lapis sedangkan dari arah selatan laut Marmara, armada laut turki utsmani harus berhadapan dengan kapal perang Genoa pimpinan Giustiniani dan di arah timur selat sempit tanduk emas sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa melewatinya.

Keesokan harinya, Sultan Muhammad II telah menyusun dan membagi tentaranya menjadi tiga bagian. Pertama adalah gugus utama yang bertugas mengepung benteng yang mengelilingi Konstantinopel. Di belakang kumpulan utama itu adalah tentara cadangan yang bertugas menyokong tentera utama. Meriam telah diarahkan ke pintu Topkopi. Pasukan pengawal juga diletakkan di beberapa kawasan strategis seperti kawasan-kawasan bukit di sekitar Kota Byzantium. Armada laut utsmani juga diletakkan di sekitar perairan yang mengelilingi Costantinople. Akan tetapi kapal-kapal tidak bisa memasuki perairan Tanduk Emas disebabkan rantai raksasa yang menghalanginya.


Peta Formasi Pengepungan
Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Sampai akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dikemukakan namun akhirnya dilakukan. Ide tersebut adalah memindahkan kapal-kapal perang yang berada di perairan selat bosporus ditarik melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Hanya dalam waktu semalam, 70-an kapal bisa memasuki wilayah perairan Golden Horn (Tanduk Emas) melalui jalur darat yang memiliki perbukitan yang tinggi dan terjal. (dari yang saya pernah baca teknisi menggunakan 2 buah gelondongan kayu yang diapit menjadi satu sehingga bagian bawah kapal yang lebih lancip bisa melewati celah antara gelondongan untuk mempermudahnya kayu-kayu diolesi minyak sehingga licin, susunan kayu-kayu itu membentuk jalur yang menghubungkan 2 laut yang berbeda).

Pada subuh pagi tanggal 22 April, penduduk kota yang lelap itu terbangun dengan suara pekik takbir tentara Islam yang menggema di perairan Tanduk Emas. Orang-orang di konstantinopel gempar, tak seorangpun yang percaya atas apa yang telah terjadi. Tidak ada yang dapat membayangkan bagaimana semua itu bisa terjadi hanya dalam semalam. Bahkan ada yang menyangka bahwa tentara sultan mendapat bantuan jin dan setan.

Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" yang menggema di segala penjuru Konstantinopel telah memberikan serangan psikologis kepada penduduk kota itu. Semangat mereka terus luntur bagai noda yang dihapus sabun oleh ancaman dan pekikan takbir mujahiddin. Ketika ribut yang belum juga reda, penduduk Konstantinopel menyadari bahwa tentara Islam telah membuat terowongan untuk masuk ke dalam pusat kota. Ketakutan melanda penduduk sehingga mereka curiga dengan bunyi tapak kaki sendiri. Kalau-kalau tentara 'turki' keluar dari dalam bumi!
Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya meluruskan niat dan membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka membanyakkan solat, doa dan zikir dengan harapan Allah SWT akan memudahkan kemenangan.

"......Sesungguhnya apabila Rasulullah SAW tiba di Madinah ketika kemenangan hijrah, baginda telah pergi ke rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Sesungguhnya Abu Ayyub telah pun datang (ke Konstantinopel) dan berada di sini!" Kata-kata inilah yang membakar semangat tentara islam hingga ke puncaknya.

Tepat jam 1 dini hari. Selasa 20 Jamadil Awal 857H / 29 Mei 1453 M, serangan umum dilancarkan. Diiringi hujan panah, tentara turki islam maju dalam tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan khusus Yanissari. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Penduduk Konstantinopel telah berada di puncak ketakutan mereka pagi itu. Mujahidin yang memang menginginkan mati syahid, begitu berani maju menyerbu tentara konstantinopel.

Ilustrasi Peperangan dan Penyerbuan

Tentara islam akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka telah berhasil mengibarkan bendera Daulah utsmani di puncak kota. Constantine XI Paleologus yang melihat kejadian itu melepas baju perang kerajaannya dan maju bertempur bersama pasukannya hingga menjadi martir dan tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri melarikan diri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Berita kematian Costantine telah menaikkan lagi semangat tentara Islam untuk terus menyerang. Namun sebaliknya, bagaikan pohon tercabut akar, tentara konstantinopel menjadi tercerai berai mendengar berita kematian Rajanya.
Tepat pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H bertepatan tanggal 29 Mei 1453 M, Konstantinopel jatuh dan berhasil ditaklukan oleh para mujahiddin, Sulthan Muhammad II kemudian dia turun dari kudanya dan memberi penghargaan pada pasukan dengan ucapannya “MasyaAllah, kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan” baru kemudian beliau sujud kepada Allah SWT di atas tanah, sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri dihadapan-Nya. Pada hari itu, mayoritas penduduk Konstantinopel bersembunyi di gereja-gereja sekitar kota. Sultan Muhammad Al-Fatih berpesan kepada tentaranya supaya berbuat baik kepada penduduk Konstantinopel. Beliau kemudian menuju ke Gereja Aya Sofya yang ketika itu menjadi tempat perlindungan sejumlah besar penduduk kota. Ketakutan jelas terbayang di wajah masing-masing penduduk ketika beliau menghampiri pintu gereja. Salah seorang pendeta telah membuka pintu gereja, dan Sultan meminta beliau supaya menenangkan penduduk. Selepas itu, Sultan Muhammad II meminta supaya gereja berkenaan ditukar menjadi masjid supaya Jumat pertama nanti bisa dikerjakan sholat jumat. Sementara gereja lainnya tetap seperti biasa. Para pekerja bertugas menanggalkan salib, patung dan menutupi gambar-gambar untuk tujuan sholat. Pada hari Jumat itu, Sultan Muhammad II bersama para muslimin telah mendirikan sholat Jumat di Masjid Aya Sofya. Khutbah yang pertama di Aya Sofya itu disampaikan oleh Asy-Syeikh Ak Semsettin. Nama Konstantinopel kemudian diganti menjadi "Islam-Buld/Islambulyang berarti "Kota Islam", yang sekarang ini lebih kita kenal dengan nama Istambul. Dan kemudian dijadikan sebagai ibu kota ketiga Khilafah Othmaniyyah setelah Bursa dan Edirne . Atas jasanya Sultan Muhammad II diberi gelar Al-Fatih (penakluk), sehingga beliau sering dipanggil Sultan Muhammad Al-Fatih. Pertempuran merebutkan kota Konstantinopel berlangsung dari tanggal 6 april s/d 29 mei 1453, atau hampir 2 bulan lamanya.[End]


Disadur dari Buku "Sejarah Kebudayaan Islam".
Jangan lupa Share dan Comment !!!

Related Posts:

Hikmah Jenaka ala Nasruddin Hoja Episode 2 "Ini Tanganku, Ambil-lah!"





         Suatu hari, Nasruddin pergi tamasya bersama beberapa temannya. Salah seorang temannya itu adalah seorang yang dikenal sangat bakhil dan superpelit. Tibalah mereka di sebuah sungai yang arusnya deras dan tanpa jembatan. Tidak ada pilihan lain, akhirnya, mereka pun harus menyeberang dengan berbasah-basah. Saat si bakhil menyeberang, dia tergelincir batu licin yang dia injak. Akibatnya fatal. Si bakhil terbawa arus dan celakanya, dia juga tidak bisa berenang.
         Teman-temannya panik dan berusaha menolong, "Berikan tanganmu ! Aku akan menolongmu !" ujar temannya. Tetapi, si bakhil tetap tidak mau memberikan tangannya. Dia timbul-tenggelam sambil megap-megap terbawa arus sungai yang deras. Teman-temannya terus berusaha menyelamatkannya.
         "Ayo sini ! Berikan tanganmu, cepat !" ujar temannya yang lain dengan muka jengkel campur heran. Si bakhil tetap tidak mau mengulurkan tangannya, meski keadaannya semakin terdesak arus deras. Nasruddin yang melihat situasi itu, merasa ada yang salah dengan kalimat yang diucapkan oleh teman-temannya.
         Maka dia pun turun tangan. Tanpa banyak berpikir lagi, dia segera menghampiri si bakhil dan berkata, "Ini tanganku, ambil-lah ! Kau akan ku selamatkan !" Tanpa buang tempo lagi, si bakhil pun langsung menyergap uluran tangan Nasruddin yang segera mengangkatnya ke tepi sungai.

Filosofis dan Hikmah tersembunyi dari kisah ini :

         Ini mungkin sindiran halus Nasruddin untuk para da'i dan muballigh. Nasruddin tampaknya muak dengan cara-cara dakwah yang menjadikan sasaran dakwah sekadar objek saja. Padahal, sasaran dakwah adalah subjek juga. Jadi, baik da'i dan muballigh maupun sasaran dakwahnya sama-sama menjalankan perilaku kebaikan. Yang satu menyampaikan firman Allah Swt, yang satu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat kebajikan. Lihatlah, tampak ada ketergantungan diantara mereka, bukan ?
         Kisah Nasruddin di atas adalah contoh dakwah yang cerdik. Nasruddin kelihatannya tidak mau menunggu sasaran dakwahnya tenggelam dan minta pertolongan. Dia sendiri yang menjemput bola. Dia "memberikan tangannya" dan bukan "meminta tangan" orang yang akan tenggelam. Dia "mendatangi" sasaran dakwah, dan bukan "didatangi". Mendatangi sasaran dakwah memerlukan ekstra keikhlasan. Sedangkan, didatangi sasaran dakwah, kendati baik, akan memberikan peluang kepada hati untuk merasa "dibutuhkan" atau setidaknya menjadi seseorang yang "lebih".
         "Memberikan tangan" tidak punya arti lain kecuali keikhlasan, tidak merasa dibutuhkan sehingga tidak menjadi sombong dan sok wibawa. Nasruddin percaya, orang yang memberi tidak akan kehilangan atau kekurangan. Bahkan sebaliknya, memberi malah akan menjadikan seseorang berkelimpahan. Setidaknya berkelimpahan berkah dari Allah Swt. Dia juga sangat yakin, prestise dan wibawanya tidak akan jatuh hanya gara-gara "memberikan tangan". Dia tidak takut dikatakan sebagai muballigh yang butuh umat. Ini mungkin berbeda dengan kita.
         Kita, karena merasa dibutuhkan. Sering "menunggu" dulu sampai orang yang mau tenggelam sudah benar-benar dalam keadaan tenggelam, berteriak minta tolong kepada kita. Lalu, kita baru mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Bukankah dengan begitu kita akan tampil sebagai pahlawan ? Secara psikologis, orang yang kita tolong juga akan merasa sangat berterimakasih.
         Tanpa kita sadari, diam-diam, kita sering merasa senang mendengar teriakan orang-orang yang kesusahan dan mengharapkan pertolongan, kendati tangan baru kita ulurkan setelah si peneriak megap-megap. Apalagi, kalau kita tahu bahwa orang yang akan kita tolong itu bakhil, "Sudah, mendingan kita biarkan dia tenggelam !" itu mungkin yang menjadi gumam dalam hati kita.
         Konon, ketika Nasruddin berumur separuh baya, masyarakatnya dalam keadaan kacau. Ini terjadi karena negaranya dijajah oleh penguasa dzalim. Pejabat-pejabat negara korup, dan tidak ada peluang sedikit pun untuk korupsi kecuali dimanfaatkan sebaik-baiknya. Para Ulama' beramai-ramai sowan kepada penguasa. Bahkan sebagian dari mereka berani membuat hadits palsu yang isinya mengukuhkan kekuasaan sang penguasa hanya untuk mendapatkan "satu-dua keping dinar".
         Ulama' jadi kaum borjuis. Mereka tidak lagi memikirkan umat, sama seperti pejabat negara yang digaji dengan pajak rakyat, tetapi tidak memerdulikan rakyat. Rakyat dibiarkan megap-megap menghadapi arus kehidupan yang keras dan kejam. Hanya sedikit sekali ulama' yang seperti Nasruddin, ulama' yang siap mengulurkan tangan dan berkhidmat hanya kepada Allah Swt. lewat menyantuni dan mengayomi umat.
         Catatan-catatan sejarah tentang Nasruddin menuliskan persahabatannya dengan Timur Lenk, sang penguasa dzalim. Namun, Nasruddin tidak memanfaatkan kedekatannya dengan sang penguasa untuk memperkaya diri. Kedekatannya dengan sang penguasa justru menguntungkan bagi rakyat dan dalam rangka melindungi mereka. Mungkin iklim dakwah pada masa Nasruddin sama dengan kita sehingga timbul anekdot itu. Timur Lenk memang telah berhasil membuat nyali para ulama' dan muballigh menciut. Kalau ada ulama' yang dipanggil ke istana, hanya akan ada dua kemungkinan. Dia pulang membawa hadiah yang berlimpah atau pulang namanya saja. Celakanya, sebagian besar ulama' pulang dengan membawa hadiah. Apakah yang mereka lakukan di istana sehingga bisa lolos dari kemungkinan "pulang namanya" saja? Jawabannya, tidak lain: manggut-manggut, diam, atau memuji-muji sang tiran.
         Ulama', sang pewaris risalah itu jadi lupa pada tugas sosialnya. Lupa bahwa mereka, disamping mewarisi risalah, juga mewarisi kemungkinan-kemungkinan ujian dan cobaan berat para nabi. Mereka lebih mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya. Padahal, para nabi tidak pernah mewariskan sikap ini. Celakanya, sikap ini mereka cari pembenarannya dalam Al-Qur'an. 
         Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka .... (QS. At-Tahrim [66]: 6)
         Mereka beralasan lebih penting menjaga diri dan keluarga daripada ngurusin umat dalam kondisi zaman yang carut-marut. Itulah sebabnya, mereka tidak merasa bersalah ketika mendapatkan keistimewaan dari sang penguasa yang dzalim, karena menurut mereka, hal itu dilakukan dalam rangka menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Setidaknya, neraka dunia.
         Itulah yang membuat lisan para ulama' menjadi tumpul. Akibatnya, mereka sudah benar-benar tidak memikirkan umat yang mau tenggelam. Apalagi, kalau umatnya tidak minta tolong, mereka mungkin akan semakin tidak peduli. Dan, dalam kondisi seperti itu, hanya Nasruddin yang dengan cerdik berkata, "Ini tanganku, ambil-lah ! Kau akan ku selamatkan !" [End]

Disadur dari Buku "Hikmah Jenaka ala Nasruddin Hoja". Karya Bagus M.B.
Tunggu Episode selanjutnya,,,,,,,,,, :D Jangan lupa Share dan Comment !!!

Related Posts:

Hikmah Jenaka ala Nasruddin Hoja Episode 1 "Kehilangan Cincin"



         Suatu hari, Nasruddin kehilangan cincin di dalam kamarnya yang gelap gulita. Tanpa berpikir lagi, dia segera keluar rumah. Sesampainya di luar, dia membungkuk-bungkuk mencari cincinnya. Sibuk sekali dia, mengangkat batu dan menyisir sela-sela rumput yang tumbuh sedikit di samping rumahnya.
         Tetangga-tetangga Nasruddin, terutama anak-anak muda yang sedang kongko, yang melihat kesibukannya, segera menghampiri dan bertanya, "Wahai Mullah, apa yang sedang anda lakukan? Sejak tadi kami melihat anda sibuk sekali."
"Aku mencari cincinku yang hilang," Jawab Nasruddin.
         Tanpa dikomando lagi, para tetangga itu ikut mencari. Hampir setiap jengkal tanah disusur dan disisir untuk menemukan cincin Nasruddin. Namun sekian lama kemudian, karena cincin itu tidak kunjung ditemukan, seorang tetangga pun bertanya, "Ya Mullah, sudah sekian lama kita mencari, tapi cincin anda tidak juga kami temukan. Sebenarnya, cincin anda hilang di mana?"
"Didalam rumahku," jawab Nasruddin dengan muka mupeng sambil terus mencari.
Mendengar jawaban Nasruddin, tentu saja para tetangga itu Ngedumel dan meninggalkan Nasruddin yang mereka anggap sinting.

Filosofis dan Hikmah tersembunyi dari kisah ini :

         Ternyata, apa yang dilakukan Nasruddin dalam cerita di atas. Seringkali kita lakukan, sadar atau tidak. Bahkan kita bangga dengan ketololan itu. Saya bertanya, "Apakah anda pernah kehilangan sesuatu di dalam rumah, dan Anda mencarinya di luar rumah ?"
Sebenarnya, Nasruddin tahu betul bahwa cincin yang hilang di dalam rumahnya tidaklah mungkin bisa ia temukan di luar rumah. Ketololannya adalah sindiran untuk kaumnya, dan juga untuk kita, yang jika kehilangan sesuatu di dalam rumah, masih terus mencari di luar rumah. Ketika, akhirnya, kita temukan juga cincin itu di luar rumah, sudah bisa dipastikan, itu bukanlah cincin Nasruddin yang hilang.
         Cincin adalah lambang kejayaan, kebanggaan dan prestise. Bahkan untuk sebagian orang, cincin adalah harga diri dan kehormatan. Nasruddin mencari sesuatu yang menjadi kebanggaan dan harga dirinya. Sesuatu yang bisa membuat gengsinya naik dan kehormatannya terjaga. Dan, cincin itu hilang di kamar rumahnya, yang memang terkenal gelap dan pengap.
         Sesungguhnya Nasruddin adalah potret wajah kita, umat Islam. Kita telah lama kehilangan jati diri kita, justru di dalam rumah kita sendiri yang gelap. Kita juga kehilangan kejayaan dan kemandirian kita, yang dulu menjadi ciri khas umat. Sayangnya kita mencarinya diluar rumah, yang walaupun terang benderang. Tetap tidak akan pernah kita temukan, dan jika kita menemukannya, maka sudah dipastikan itu bukanlah kebanggaan dan jati diri kita yang sebenarnya. Celakanya, sekarang ini, hal itulah yang sedang kita lakukan.
         Kita, terutama anak-anak dan adik-adik kita, saat ini sedang mencari "cincin Nasruddin" yang hilang. Maka di luar rumah, kita bertemu dengan Karl Marx, Sigmund Freud, Che Guevara, Elvis Presley, Janis Joplin, Mick Jagger, John Lennon, Kurt Cobain, Mariah Carey, Pearl Jam, Britney Spears, West Life, F4, dan sebagainya. Tentu saja mereka bukanlah "cincin Nasruddin" yang hilang dan selama ini sedang kita cari, tetapi apa boleh buat, kita temukan mereka diluar rumah kita yang memang terang-benderang dihiasi oleh berbagai kemewahan dan perhisan duniawi semata. Mereka tampak lebih berkilauan karena memang mereka berada dalam kebenderangan dunia.
         Ya, sesungguhnya kita telah kehilangan idola yang membuat kita bangga. Jika kita mau mengidentifikasinya, sebenarnya kita mempunyai orang-orang besar yang tidak akan pernah dilahirkan kembali oleh sejarah. Mereka adalah Nabi Muhammad Saw, keluarga serta para sahabatnya. Kita punya Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, Umar bin Khattab r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi-Thalib r.a, Zaid bin Tsabit, Khalid bin Walid, Salman al-Farisi, Bilal bin Rabah, Abu Dzar Al-Ghifari, Usamah bin Zaid, dan masih banyak lagi. Dan dijajaran perempuan, kita mempunyai Khadijah Al-Kubra, Fatimah Az-Zahra, Aisyah r.a, Ummu Salamah, dan sebagainya.
         Merekalah sesungguhnya yang patut menjadi idola kita. Allah Swt. telah menjamin mereka masuk surga. Adakah tujuan akhir yang lebih mulia daripada masuk surga? Dan apakah ada pribadi yang lebih pantas diteladani selain orang yang masuk surga? Merekalah sesungguhnya "Cincin Nasruddin" yang hilang di rumah kita itu. Untuk menemukan mereka, tidak ada jalan lain kecuali menyalakan pelita agar rumah kita jadi terang-benderang.
         Rumah kita yang gelap adalah hati dan pikiran kita yang belum terjernihkan atau mungkin mati. Kalau belum jernih, maka harus dibersihkan. Kalau mati, maka harus dihidupkan. Dengan apa? dengan Al-Qur'an. Hanya Al-Qur'anlah yang mampu menjadi pelita untuk menerangi hati dan pikiran kita yang gelap-gulita bagai rumah Nasruddin.
         Selama ini, Al-Qur'an hanya kita fungsikan dalam tiga suasana: saat kelahiran anak, saat pernikahan, dan saat kematian. Selebihnya, ia adalah kitab klasik yang memenuhi rak-rak perpustakaan kita. Kitab Klasik yang "tidak ternilai harganya". Bahkan saking "tidak ternilainya" sampai-sampai ia jadi "tidak berharga" alias tidak dihargai sama sekali.
         Kita bersihkan Al-Quran di rak perpustakaan itu dari debu dengan kain lap, tetapi kita tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai pembersih jiwa dan hati kita dari debu-debu kemaksiatan dan dosa. Kita tidak pedulikan debu-debu yang mengakibatkan dosa terus menerus menutupi jiwa dan hati. Jiwa dan hati menjadi gelap dan lama-kelamaan bukan tidak mungkin akan mati dalam kegelapan atau mati karena kegelapan.
         Kita cium Al-Qur'an dengan penuh khidmat dengan hidung, atau kita kecup dengan mulut kita. Namun tidak pernah kita mencium dan mengecupnya dengan jiwa dan hati kita yang gersang, dengan hati kita yang legam pekat, karena noda hitam dosa dan kesalahan. Allah Swt. Berfirman, .... dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS. An-Nisa' [4]:174).
         Rumah kita bisa juga di maknai sebagai Al-Islam. Agama yang kita yakini, yang sesungguhnya kita hidup di bawah naungannya. Namun, karena kita tidak menggunakan aturan hidup yang telah digariskan secara jelas oleh Islam, lewat contoh kehidupan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, "Islam kita" jadi kehilangan cahaya. Kita mengaku Muslim, tetapi tidak mau diatur oleh Islam. Sebuah ironi, bahkan mungkin tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia adalah ketika seseorang yang mengaku Muslim, tidak mau diatur hidupnya oleh Islam.
          Kita remehkan shalat, dan menganggap shalat hanyalah simbol-simbol kesalehan lahiriyah semata. Kita terus asyik bermaksiat dan menganggapnya sebagai hal yang "niscaya" karena "tuntutan zaman". Kita abaikan puasa, karena menganggap kesalehan itu bukan dari banyaknya aturan agama yang kita jalankan, melainkan lebih pada bagaimana kita bergaul dengan sesama. Kita tidak mau menunaikan zakat, karena itu hanya sebagai kewajiban "mengasihani" orang-orang miskin, tidak lebih dari itu. Dan haji, tidak lain dari "tamasya" ruhani belaka.
         Orang luar "rumah kita" juga bisa melihat dengan jelas kegelapan rumah yang kita huni. Mereka mungkin bertanya, "Kok betah ya dia tinggal di rumah yang gelap kayak gitu?" Sedang sebagian dari kita sedang sibuk mengutak-atik pelita tanpa ada upaya menyalakannya. Mereka mengatakan sang pelita kurang ini-itu, pelita itu harusnya begini-begitu. Walhasil, pelita itu kehilangan manfaat dari keberadaannya. Sebab, ia hanya dibicarakan dan diutak-atik tanpa pernah dinyalakan, agar bisa menerangi ruangan yang gelap. Menyalakan pelita itu berarti memfungsikan pelita menurut "kodratnya" dan menurut tujuan diciptakannya.
         Nah, sekarang, siapakah yang tolol; Nasruddin atau kita ? [End]

Disadur dari Buku "Hikmah Jenaka ala Nasruddin Hoja". Karya Bagus M.B.
Tunggu Episode selanjutnya,,,,,,,,,, :D Jangan lupa Share dan Comment !!!

Related Posts: